Budaya dan Sikap saling Menghormati dalam Al-Qur'an

Menurut tulisan J. Verkuyl, yang dikutip buku Paradikma Kebudayaan Islam menjelaskan. Bahwa kata kebudayan itu mulai dipakai kira-kira pada tahun 1930, kemudian dengan cepat merebut tempat yang tetap dalam pembedaharaan bahasa Indonesia. Selanjutna Verkuyl mengatakan, kata kebudayaan itu berasal dari bahasa Sanskerta budaya, yakni bentuk jamak dari budi yang berarti roh atau akal.

Jadi kebudayaan adalah khas manusia, bukan ciptaan binatang ataupun tanaman, yang tidak memiliki akal budi. Binatang memang mempunyai tingkah laku tertentu menurut naluri pembawanya yang berguna untuk memelihara kelangsungan hidupnya. Akan tetapi, binatang tidak mempunya kebudayaan. Karena tidak di topang oleh akal yang berbudi.

Keluesan Budaya

Emha Ainun Najib pernah berpendapat mengenai budaya dalam acara Pagelaran Budaya Islam 27 Juli 2013 di UGM. Bahwasannya, budaya adalah suatu estetika, yang mana budaya ialah suatu hal yang tak dapat terlepas dari aspek keselarasan. Seperti halnya jikalau kita bermain musik rock di masjid, tentu hal tersebut adalah tindakan yang tidak estetik. Karena sesuatu yang selaras dengan masjid adalah lantunan senandung ayat suci Al-Quran.

Tidak hanya terpaku pada estetika, sejatinya budaya mampu melekat pada segala bidang, seperti pada bidang keilmuan. Bagaimana ilmu bisa berkembang, kalau tidak masuk dalam segi keilmuan. Diamana para ahli merumuskan sebuah ilmu, menjadi sebuah disiplin ilmu yang terdiri dari beberapa bab dan sub-bab. Dan di saat itulah para siswa termudahkan dalam menangkap sebuah ilmu. Dan untuk contoh kecilnya, di saat para siswa berbudaya berangkat pagi untuk ke sekolah, dan menggunakan seragam yang rapi.

Apalagi masalah negara, hal tersebut tak mungkin terlepas dari budaya. Bisa dilihat dari bagaimana seorang presiden mempunyai wewenang penuh atas memberikan perintah untuk angkat senjata atau gencatan senjata disertai dengan persetujuan DPR. Dimana DPR RI terdiri dari lima ratus anggota, yang merupakan perwakilan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kemudian untuk contoh kecilnya, Budaya seorang presiden harus berupa warga negara Indonesia.

Baca Juga:  Variasi Bacaan Al-Qur'an

Semua hal tersebut, merupakan budaya. Bukan berarti jika ada hal yang berbau modern, hal tersebut bukan budaya. Sama halnya dengan persoalan darat dan langit. Langit tidak bisa di sama arti dengan daratan, begitu juga dengan langit. Tapi apakah daratan dan langit adalah suatu hal yang berbeda? Jika terbit di dalam pikiran, bahwasannya kedua hal tersebut adalah suatu yang berbeda. Maka hal tersebut adalah pemikiran yang salah. Karena daratan dan langit adalah pecahan dari satu kesatuan yang sama, yakni bumi.

Terkadang orang yang berbudaya sering dikonotasikan sebagai orang-orang yang bodoh dan konservatif (kolot). Karena mereka memiliki pandangan terhadap orang-orang yang berbudaya. Bahwasannya, kebudayaan adalah tindakan yang tidak berguna, stagnan dan tidak berkembang.

Hal ini memang ada benarnya, namun jika dilihat dari kacamata yang lebih luas. Paparan yang mengatakan bahwasannya berbudaya itu tindakan bodoh, adalah hal yang mustahil. Karena budaya dalam konteks ini, adalah etika yang tak bisa terlepas dari setiap diri manusia dan akan terus begitu selagi manusia itu hidup. Dapat dibuktikan dengan adanya tokoh seperti, Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Nadjib, Sujdiwo Tejo, dll. Yang mana mereka adalah budayawan, namun tetap eksis dengan perkembangan zaman.

Tapi bukan berarti budaya adalah suatu hal yang paten. Tapi budaya adalah hal yang luwes, bisa berubah-ubah tanpa ada teori yang pasti. Maka dengan adanya keluesan yang terkandung dalam budaya, hendaklah kita tidak dengan seenaknya sendiri merubah-ubah budaya yang telah lestari ataupun mengolok-oloknya.

Sikap dalam Menanggapi Perbedaan yang Ada

Sikap saling menghormati dan menghargai, adalah sikap yang harus langgeng di Bumi Nusantara ini. Yang mana, ada salah satu dari sekian banyak golongan yang mengunggul-unggulkan budaya yang mereka miliki. Alhasil, mereka atau salah satu dari mereka menjustifikasi/menganggap bahwasannya budaya yang dilakukan oleh golongan selainnya adalah sesuatu yang salah. Nah, hal inilah yang harus kita perhatikan bersama dan kita hindari.

Baca Juga:  Kisah Sahabat Nabi: Zaid bin Haritsah yang Tertulis dalam Al-Quran

Sesungguhnya Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 13:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Yang artinya; “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengetahui rahasia-rahasia.

Syaikh Musthafa Al-Maraghi dalam kitabnya yang berjudul Tafsir Al-Maraghi, beliau menambahkan. Sesungguhnya Allah menciptakan kalian dengan bermula pada penciptaan Nabi Adam As. kemudian Hawa. Dan bagaimana bisa kalian semua saling merendahkan, mendiskriminasi, mencela, atau mengolok-olok satu sama lain, padahal kalian kalian semua adalah satu nasab (satu keturunan).

Kemudian beliau bercerita; Abi Malaikah pernah bercerita; di saat terjadi Fathul Makkah, sahabat Bilal bin Rabbah mendaki ke atas Ka’bah melalui sisi bagian luar Ka’bah untuk mengumandangkan adzan. Kemudian Attab bin Ain abi Aisy berkata; “Segala puji bagi Allah yang telah menerima bapakku sehingga tidak dapat melihat tragedi hari ini”. Kemudian disusul oleh Harits bin Hisyam dengan berkata; “Apakah hanya burung gagak hitam yang ada untuk mengumandangkan azan?”. Dan Sahil Ibnu Amr berkata: “jika Allah meng-hendaki sesuatu, maka sungguh hal tersebut pasti akan terjadi”.

Maka datanglah malaikat Jibril kehadapan Rasulullah Saw. dengan membawa kabar tentang apa yang mereka katakan atau umpatkan terhadap Sahabat Bilal. Maka Rasulullah mendoakan dan memintakan ampun kepada mereka atas apa yang telah mereka katakan dan umpatkan terhadap Sahabat Bilal.

Baca Juga:  Al-Qur'an Memilih Genrenya Sendiri

Sehingga turunlah ayat ke-13 surat Al-Hujurat ini sebagai larangan kepada mereka untuk menyombongkan diri, dan mendiskriminasikan golongan atau orang lain. Karena sesungguhnya pembanding yang berlaku disisi-Nya hanyalah pada ketakwaan.

Dari ayat dan tafsir di atas kita bisa mendapatkan sebuah kabar yang berupa penegasan bahwasanya, perbedaan adalah suatu hal yang mutlak. Karena Allah SWT sendiri yang me-nas/menetapkannya. Dan adanya larangan untuk saling menghina. Maka tindakan menghargai dan mengormati perbedaan budaya merupakan suatu yang wajib. []

Sumber:

  1. Ahmad bin Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi (t.tp: Musthafa al-Babiy, 1946), v. 26, hal. 141
  2. Faisal Ismail, MA, Paradigma Kebudayaan Islam (Titian Ilahi Press, 2003) hal. 23

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Opini