Berhenti Berharap

Sekitar tahun 2013, saya mulai bertugas menjadi penjaga ujian di madrasah diniyah kwagean. Meskipun saya sendiri belum menguasai semua materi ujiannya, namun lumayan menjadi penambah pengalaman sekaligus menguji mental saat ada yang bertanya tentang pertanyaan ujian. Dan salah satu yang menambah pengalaman adalah pesan yang selalu disampaikan oleh kepala madrasah saat ujian hari pertama.

Sudah menjadi kebiasaan, saat ujian seperti ini pak kepala madrasah yang kebetulan adalah paklik saya, yaitu adiknya bapak yang biasa kami panggil lek rom. Dan nama beliau adalah pak romdli. Beliau akan berkeliling dihampir semua kelas, dan menyampaikan pesan yang hampir sama: “al-i’timaadu alan nafsi, asaasun najah (berpegang teguh pada diri sendiri, adalah kunci kesuksesan)”. Beliau menyampaikan dawuh ini, dengan maksud agar jangan mengandalkan teman saat ujian. Harus bisa percaya dan selalu berusaha mengandalkan diri sendiri, terutama saat ujian seperti ini, karena sifat mandiri inilah yang nantinya kan menjadi kunci kesuksesan seseorang.

Dawuh ini adalah sesuatu yang juga selalu dipesankan oleh bapak saya, beliau tidak hanya sekali dua kali mewanti-wanti kami, anak dan murid beliau untuk teguh menjaga daeuh ini. Karena memang kemandirian ini adalah kunci kesuksesan. Dalam banyak keputusan dan prinsip beliau, kemandirian adalah salah satu yang terpenting.

Seperti saat memilih tempat berjuang, beliau akan selalu memesankan para santri agar jangan hanya menerima tanah waqaf atau pemberian orang. Terutama untuk tempat tinggal, maka lahan dan bangunannya harus milik pribadi. Meskipun ukurannya sangat kecil, dan bangunannya sangat kecil. Karena bahkan bapak sendiri mencontohkannya dalam awal perjuangannya dulu merintis pondok Kwagean. Beliau bertempat di lahan yang sempit, dan mendirikan gubuk yang hanya berukuran tiga kali empat meter. Disekat menjadi dua kamar, yang satu untuk istirahat, satunya untuk menemui tamu. Bertahan seperti itu hingga bertahun-tahun lamanya.

Baca Juga:  Imam Ghazali Masuk Surga Karena Seekor Lalat

Hingga saat ini pun beliau masih memegang teguh prinsip ini, setiap kali ada orang yang ingin membantu, entah itu memberi tanah atau ingin membantu pendirian bangunan, beliau tidak langsung bersuka kemudian lupa waspada. Mungkin terkesan curiga, bila bapak akan mempertanyakan secara detail maksud dan status bantuan tersebut. Namun sebenarnya ini adalah wujud kehati-hatian, dan tidak ingin bergantung pada orang lain. Bapak hanya ingin semua transaksi jelas, dan tidak ada kebingungan apalagi kerugian dibelakang. Karena bapak berprinsip, kita hanya bisa mengatur dan bertanggung jawab pada apa yang benar-benar telah menjadi hak milik kita. Bila masih ada ketergantungan pada orang lain, maka akan sulit bagi kita untuk merdeka mengatur dan menjaganya demi kebaikan lembaga kita. Dan hambatan ini, adalah sebuah beban bagi jalan menuju sukses.

Saya pribadi sudah tidak terhitung berapa kali kecewa karena terlalu berharap pada manusia, entah itu teman dekat, teman tidak dekat, pun pada saudara. Meskipun tetap saja banyak jasa mereka kepada kita, namun harapan kita yang lebih adalah sumber kecewa. Tidak peduli harapan ini pada sesuatu yang bersifat materi, ataupun bahkan sesuatu hal kecil yang berhubungan dengan hati.

Namun anehnya saya tidak pernah kapok untuk mengulang kekecewaan, karena masih berfikir bahwa kekecewaan ini adalah terapi jiwa atau bahkan sesuatu yang menyucikan energi.

Hingga akhirnya saya menyadari, bahwa ini bukan tentang luka melukai. Tapi ini tentang mental diri. Selama saya masih berharap pada manusia, maka pada saat itu juga saya masih menjadi orang miskin yang sebenarnya. Tidak peduli seberapa banyak isi rekening kita, seberapa luas tanah milik kita, atau seberapa banyak harta lainnya. Selama masih berharap pada manusia, maka kita hakikatnya miskin, dan sangat berpotensi terluka. Kecewa. Dan hampa.

Baca Juga:  Sejarah Jazirah Arab sebagai Permulaan Dakwah Islam

Kesadaran ini muncul berbarengan dengan keterangan bapak, yang intinya:

Barang siapa yang memutus harapannya pada manusia, maka dia sejatinya orang kaya”.

Jadi, kita memang seharusnya saling tolong menolong. Namun jangan kemudian selalu mengharapkan bantuan. Kita memang seharusnya bekerja untuk mendapatkan harta benda, namun jangan kemudian selalu mengharapkan hasil berupa materi pada setiap yang kita ikhtiari. Karena usaha dan hasil adalah dua hal yang tidak selamanya saling bersanding, susul menyusuli. Seringkali ada jeda, atau bahkan peralihan wujud juga rupa dari yang kita minta. Karena Allah selalu memberi pada waktu yang tepat, dengan rupa yang juga tepat.

Selalu berharap pada tuhan, dan percaya bahwa yang terbaik adalah yang diberikan, maka kebahagiaan akan menjadi perasaan, dan kekayaan menjadi mental dan kenyataan. [hw]

#salamKWAGEAN

Muhammad Muslim Hanan
Santri Alumnus PIM Kajen dan PP Kwagean Kediri

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah