Jika Anda menyembelih hewan kurban, anda dianjurkan memakan sebagian dagingnya, maksimal sepertiga menurut Mazhab Syafi’i. Berdasarkan ayat:

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Maka makanlah sebagian daripadanya (Qurban) dan sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (Al-Ĥaj: 28)

Mana bagian daging yang dianjurkan untuk dimakan sendiri? Boleh bagian mana saja. Akan tetapi jika melihat kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, beliau senang mengambil bagian dari hewan:

Berapa Bagian Pemilik Kurban?

1. Paha Sebelah Kanan Depan

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻗﺎﻝ: «ﺃﺗﻲ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻠﺤﻢ ﻓﺪﻓﻊ ﺇﻟﻴﻪ اﻟﺬﺭاﻉ ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻌﺠﺒﻪ ﻓﻨﻬﺲ ﻣﻨﻬﺎ»

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam disuguhi daging, kemudian Nabi diambilkan pergelangan. Nabi menyukainya. Lalu Nabi memakannya [dengan menggigitnya]” (HR At-Tirmidzi)

Pengertian dzira’ dalam hewan adalah:

ﻭﻣﻦ ﻳﺪﻱ اﻟﺒﻘﺮ ﻭاﻟﻐﻨﻢ ﻓﻮﻕ اﻟﻜﺮاﻉ

Kedua kaki depan di atas lutut untuk sapi dan kambing” (Sunan At-Tirmidzi dan Tuhfah Al-Ahwadzi 5/463)

Daging yang didahar (dimakan) oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ternyata mengandung kolesterol rendah dan tidak membahayakan kesehatan (lihat gambar no 6 dan kadar kolesterolnya). Kolesterol yang tinggi terdapat pada gajih, jeroan dan kepada hewan.

2. Jeroan

ﻋﻦ ﺑﺮﻳﺪﺓ، ﻗﺎﻝ: ” ﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫا ﺭﺟﻊ ﺃﻛﻞ ﻣﻦ ﻛﺒﺪ ﺃﺿﺤﻴﺘﻪ “

Dari Buraidah bahwa jika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah pulang (dari Salat idul Adha) beliau memakan hati hewan kurban beliau” (HR Al Baihaqi)

Saat ini jeroan masuk kategori organ tubuh hewan yang memiliki kadar kolesterol tinggi. Apa yang dilakukan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam ini adalah menunjukkan hukum boleh. Bukan berarti Nabi tidak memperhatikan kesehatan. Sebab Rasulullah shalallahu alaihi wasallam termasuk jarang sakit karena cara hidup beliau adalah gaya hidup sehat.

Baca Juga:  Mengganti Sapi dengan Tujuh Kambing dalam Nadzar Qurban

Kecuali jika hewan kurban tersebut adalah nazar, maka pemiliknya tidak boleh makan dan mengambil bagian. Seluruhnya harus disedekahkan. Nazar itu janji atas nama Allah dan Allah mengabulkan keinginannya. Misal: “Jika tahun ini anak saya hafal Al-Qur’an maka akan saya lakukan kurban”, “Jika istri saya melahirkan anak laki-laki/perempuan maka saya akan kurban sapi” dan sebagainya, kemudian Allah mengabulkan, maka kurban nazar harus disedekahkan semua kepada orang-orang yang tidak mampu. []

Maruf Khozin
Ketua Aswaja Center Jawa Timur, dan Pengurus PW LBMNU Jawa Timur.

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Pustaka