belok kanan bahagia

Cuma belok kanan tanpa tikungan juga tanjakan, kenapa harus muter muter dulu? dan kenapa harus menunggu arahan?.

Tentang bahagia, hanya tentang bagaimana kita menyikapinya. tanpa terdikte dari yang namanya manusia. karena sebenarnya

إنه هو اضحك و ابكى

“Sesungguhnya Dia lah yang menjadikanmu bahagia dan sedih” (Q.s An najm:43). Yang perlu kita sadari bahwa terkadang kita menggantungkan kepada manusia terlebih jika terucap “aku tanpamu gak bahagia“.

Karena yang bergaris abu abu tak kunjung membiru kemudian sedih gitu?

Karena hutang yang gak kebayar-bayar juga sedih gitu?

Atau karena tugas yang udah deadline gak kekejar gitu?

Kemudian gak bahagia ?

Bahagia tidak sesempit itu teman! banyak kebahagiaan lain yang bisa kita dapatkan dan kita ciptakan. Dan tidak ingatkah disaat kau kecil? bahagia dengan sangat sederhana, bermain, berlari, walau pun anak kecil itu bermain sendiri. Lalu ketika kau beranjak dewasa mengapa bahagia harus menggantungkan kepada balasan, kerjaan, tanggungan manusia?.

Mengapa kita baik dan bahagia menunggu orang berbuat baik dan membahagiakan seketika?. Seperti contoh orang tua yang mempunyai anak nakal dan berkata: “kapan ya anak saya berbuat baik dan bisa membahagiakan saya?”.

Jika semua makhluk Tuhan menggantungkan kebahagiaan nya kepada sesama manusia, maka dari mana akan terciptanya bahagia jika semua menomersatukan permintaan?.

Disaat ada dari mereka yang berbuat buruk kepada kita, kita akan sedih, dan ketika ada yang berbuat baik pada kita, barulah kita bahagia. Kenapa bahagia harus menunggu selama itu? menunggu orang baik datang kepada kita?.

Sedih bahagia ialah sebuah keputusan hati kita sendiri, bukanlah suatu harapan. Memang, hidup dikalangan masyarakat tidak menutup kemungkinan untuk terjadi nya suatu konflik. Namun jangan sampai karena konflik karena disakiti kita tidak bahagia. Bahkan sampai mempunyai rasa ingin membalaskan dendam hingga kita baru saja bahagia.

Baca Juga:  Arti Kebahagiaan Hakiki Menurut Raden Sosrokartono

Tetap paksa apapun kondisinya, paksa diri kita bahagia tanpa ada campur tangan manusia yang menjadi penyebabnya. Bersikap syukur mengingat Tuhan, masih bisa bersujud kepada-Nya, tidak dalam kondisi peperangan, dan yakin apapun polemik hidup kita, semua ada waktunya. Biar Tuhan yang menyelesaikan semuanya. Toh kita tidak mempunyai andil apa-apa, nafas saja perlu kehendak Tuhan.

Pasrah kan saja pada Tuhan.

“Santai saja, karena didalam santai yang berefek bahagia terdapat sifat ketauhidan yang kita tanam” – Dawuh gus Idrishan, kwagean.

Ada pepatah arab juga mengatakan:

اعتزل ما ىؤذى

(Hilangkan lah apa yang membuatmu sakit).

Bagaimana tidak, baik buruknya orang bukan ditangan kita dan bukan kekuasaan kita. kita tidak bisa mengatur seseorang menjadi baik hingga dapat membahagiakan kita. Tidak! karena itu murni hak preorogatif Allah. Cukup mempelajari seni bodoh amat, karena bahagia dari kita sendiri bukan dari mereka.

Ibarat seseorang sedang mendapatkan rizki yang banyak, pastinya bahagia bukan? namun bisa saja tidak, jika seorang itu tadi tidak ingin bahagia dengan alasan “saya kalau dapat give away harus nanggung ongkir, pajak atau yang lain atau malah sisa nya habis untuk membayar hutang“. Namun jika seorang itu sudah muncul hasrat dari dalam dirinya untuk memaksa dan menginginkan bahagia, maka yang terucap: “ya gak papa, dapat give away ya diterima, suruh bayar ongkir, pajak ya tinggal bayar, kalaupun gak dapat give away juga tidak apa apa, memang belum rezekinya saja“. Betapa tenangnya hati itu bukan?. Semisal kita bahagia menunggu mendapatkan give away atau apapun hal baik yang terjadi menghampiri kita, tidakkah sia-sia waktu kita untuk menunggu?.

Seperti lagi contoh ketika kita mendapat kritik atau perilaku yang menyebabkan hati kita terjatuh dan kemudian kita sedih, tidak bahagia, berhenti untuk melakukan aktivitas kegiatan yang manfaat.

Baca Juga:  Kebahagiaan Menurut Syed Naquib Al-Attas

احرص على ما ينفعك ودع كلام الناس ، فانه لا سبيل السلامة من السنة العامة و رضا الناس غاية لا تدرك

“Terus lakukanlah apa yang bermanfaat bagimu, karena sesungguhnya tidak akan ada jalan selamat dari perkataan pahitnya manusia, dan ridhanya manusia merupakan seusatu yang tidak akan tercapai”.

Sedikit perbincanganku dengan sang motivator.

Seterusnya dan selamanya akan terus ada, jika kita disetiap mendapat cercaan manusia sedih, kapan bahagianya? paksa dan kuatkan hati untuk menerima“ – Ibu Marte.

Orang memakai baju tidak menutup aurat dibilang kurang bahan, sudah pakai baju panjang dibilang gak syar’i, sudah pakai hijab syar’i kemudian tidak sengaja melakukan kesalahan dibilang jilbabin dulu dalamnya bukan luarnya.

Bahagia bukan karena mereka memuji kita dan sedih bukan karena mereka mencela kita. Akan tetapi apakah hati kita menginginkannya atau tidak.

Gak ribet kok, gak jauh, gak lewat pertigaan atau perempatan. Cukup belok kanan udah bahagia. Wallahu a’lam bish-shawab. [HW]

Azfa Zulfa
Pelajar di Yayasan Al-Muhajirin Batam Kepulauan Riau

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini