Bagaimana Kerangka Al-Qusyairi Digunakan untuk Menghadapi Masyarakat Indonesia?

Al-Qusyairi dengan nama lengkap Abdul Qasim ‘Abdul karim Hawazin al-Qusyairi merupakan tokoh pertama pelurus penyimpangan tasawuf dari segi teoritis maupun praktis, dari bentuk akidah maupun bentuk moral dan tingkah laku.

Al-Qusyairi merupakan seorang tokoh tasawuf yang tersohor di era kelima Hijriyah yang mengarah untuk membentuk modernisasi. Merehabilitasi kajian tasawuf pada asas Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merupakan stigma awal dari kajian tasawuf sunni.

Ibnu Khalikan mengemukakan bahwa Al-Qusyairi merupakan tokoh tasawuf yang mampu mengkompromikan syariat dengan hakikat. Ia adalah tokoh Tasawuf yang menganut serta mengamalkan tasawuf yang sejalan dengan ajaran syariat. Ia berupaya menyadarkan orang perihal tasawuf yang shohih ialah tasawuf yang bernafaskan pada akidah serta tidak menyalahi ketetapan syariat, seperti halnya ajaran yang dianut para salaf atau Ahl al-Sunnah.

Lantas bagaimana kerangka al-qusyairi digunakan untuk menghadapi dan memahami masyarakat indonesia?

Indonesia selain mempunyai SDA yang berlimpah juga mempunyai SDM yang potensial. Di antara mereka adalah ahli sosial, ekonomi, hukum, politik, goelogi, dan sebagainya. Tetapi mereka melengahkan kebijakan nasional dan internasional yang menyangkut hubungan manusia, seperti kebutuhan rasa aman, kasih sayang, martabat kemanusiaan, kebebasan, kebenaran, keadilan serta tanggung jawab diberbagai bidang kehidupan.

Hal itu disebabkan adanya teknologi, globalisasi, modernisasi dan industrialisasi yang tidak dapat dielakkan. Akibat persenyawaan sains dan teknologi, keserakahan dan kejahatan telah meroket teknik malapetaka besar yang menggetarkan jati diri masyarakat Indonesia. Masyarakat di hadapkan dengan berbagai macam ancaman yang mengerikan, tragedi kelaparan, rusaknya keanekaragaman, perenggangan norma-norma sosial, dan lain sebagainya.

Yudi Latif (1999: 142) mengemukakan hegemoni sains dan teknologi yang membawa revolusi industri dan informasi, telah mempersoalkan masyarakat Indonesia. Globalisasi informasi dengan pola hidup yang dibuahkan arus media masa semakin menimbulkan akutnya pergeseran nilai-nilai.

Baca Juga:  GP Ansor Cianjur Ajak Masyarakat Sambut Ramadan Dengan Khidmat

Al-Qusyairi dalam menghadapi problematika tersebut mengemukakan bahwa jalan untuk menyelamatkan gaya hidup masyarakat Indonesia yang sudah berubah adalah dengan cara kembali kepada agama, meneguhkan dengan ide-ide mulia keagamaan. Sebab gama sangat penting bagi jiwa, agama akan memberi jalan untuk mengembalikan ketenangan batin, mengokohkan moral dan spiritualitas.

Al-Qusyairi menekankan bahwa ajaran agama yang pas untuk masyarakat Indonesia yang multicultural yaitu dengan menggunakan kerangka doktrin-doktrin ahlussunnah wal jama’ah. Sebab ajaran tersebut menurutnya dapat memahami keadaan masyarakat dan kebutuhan dalam kesejahteraan dan ketenteraman hidup.

Pada dasarnya ahlussunnah menganut lima esensial. Yakni keseimbangan dalam berkhidmah “at Tawazun”, toleran terhadap perbedaan pemahaman masalah agama budaya ataupun adat “at-Tasamuh”, moderat atau mengambil jalan tengah “at-Tawasuth”, tegak lurus patuh pada hukum “at[1]Ta’adul”, perintah menegakkan kebajikan dan mencegah kebathilan “amar makruf nahi mungkar”.

Dalam perspektif al-Qusyairi menganut lima esensial sangatlah prinsipil dan urgen. Karena menurutnya cara menghadapi masyarakat Indonesia ini harus dibangun di atas kekuatan lima esensial ahlussunnah. Apabila teknologi dan globalisasi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia kuat dan tangguh, namun bila lima esensial ahlussunnah yang dimilikinya lemah, maka masyarakat Indonesia dipastikan akan hancur akibat persenyawaan sains dan teknologi

Al-Qusyairi menganggap bahwa lima esensial merupakan kekayaan terbesar sebagai senjata yang ampuh dalam menghadapi berbagai rongrongan persenyawaan sains dan teknologi. Dengan itu beliau juga menumbuhkan sikap ahlussunnah dalam memberi teladan sikap yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

Sebagaimana sikap yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat Indonesia yakni harus memahami informasi (mendengar sikap bukan hanya mendengar ilmunya), bahari dalam bergaul pada siapapun, memprioritaskan kepentingan bersama tinimbang kepentingan diri sendiri, adanya kontinuitas antara destruksi kepentingan lahir dan batin, membuka jiwa terhadap intuisi.

Baca Juga:  Kiprah Santri dalam Membangun Negeri

Jadi Al-Qusyairi menekankan bahwa kita harus kokohkan dalam hati ketika memegang aqidah jangan sampai terprovokasi dengan yang lain, akan tetapi dalam hal social kita juga harus bisa menghormati dan menggayam jaringan baik antar sesama bukti sebagai wujud ridho terhadap ketentuan nilai-nilai sosial. []

Sumber Bacaan

Al Qusyairi. Risalah Sufi Alqusyairi: Terj Ahsan Muhammad. Bandung: Pustaka. 1994.

Anisa, Listiana. Menimbang Teologi Kaum Sufi Menurut Al-Qusyairi Dalam Kitab Al[1]Risālah Al-Qusyairiyah. Kalam: Jurnal Studi Agama Dan Pemikiran Islam Vol. 7, No. 1 Juni 2013.

Dadang Kahmad. Tarekat Dalam Masyarakat Islam Spiritualitas Masyarakat Modern. Bandung: Pustaka Setia, 2002.

Santri Kh. Sholeh Bahruddin. Sabilus Sâlikin, Jalan Para Sâlik. Pasuruan: Ensiklopedi Tharîqah/Tashawwuf.

Tim Batartama Pondok Pesantren Sidogiri, Trilogi Ahlusunnah Aqidah, Syariah Dan Tasawuf . Pasuruan: Pustaka Pondok Pesantren Sidogiri, 2012.

Durriyatun Ni’mah
Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Opini