Ayah dan Guru Besar Saya

Kabar duka kematian berseliweran di beranda Facebook pada Ahad (14/03/2021). Maklum, yang meninggal bukan orang biasa, tapi salah satu guru besar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Prof Dr H Ahwan Mukarom, MA.

Saya terdiam cukup lama. Hanya sesekali menjawab pesan berantai di grup WhatsApp. Demikian pula tidak seketika membuat status atas kepergian Pak Akhwan, sapaan saya kepada almarhum.

Setelah semua reda, saya sempatkan membuat catatan berikut sebagai bukti takdzim dan hormat saya kepadanya. Sekaligus memberikan kesaksian atas jariyah dan teladan yang demikian bermakna dalam perjalanan hidup saya.

Saya mengenal Pak Akhwan saat kuliah di Fakultas Adab, jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam. Harus sampai ke semester agak ‘tua’ agar bisa mengambil mata kuliahnya. Tapi hal itu memang wajar, karena almarhum termasuk dosen penting dan senior.

Kesan awal saya kepada Pak Akhwan sebagai dosen yang tidak suka dengan aturan yang baku dalam perkuliahan. Bahkan aturan main terkait nilai semester sudah disampaikan di awal tatap muka. Yang lebih menentukan adalah efektivitas kelas, dalam artian siapa yang menonjol saat perkuliahan berlangsung, dia akan memperoleh nilai super.

Namun tidak mudah ‘menaklukkan’ hatinya, perlu perjuangan keras dan berat. Saya akhirnya lumayan diperhatikan saat diminta menjelaskan buku baru Sepuluh Arah Baru untuk Tahun 1990-an Megatrends 2000 karya John Naisbitt dan Patricia Aburdene.

Dari situlah saya semakin akrab dan kerap berbagi literatur terbaru. Berdiskusi dengan sedikit canggung lantaran penguasaan bahasa asingnya yang di atas rata-rata.

Berkah dari situlah, usai wisuda saya diminta untuk menjadi asisten dosen dia. Ya ampun, ini anugerah atau musibah? Apalagi saat itu jabatannya juga mentereng, Pembantu Rektor Dua Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel sebelum akhirnya berubah menjadi universitas.

Baca Juga:  Muhammad Ali Ramdhani Dirjen Pendis Yang Baru Dorong Percepatan Guru Besar

Yang juga membuat saya terhenyak adalah bahwa mata kuliah yang harus saya sampaikan adalah kepada mahasiswa semester lima, dua tingkat di bawah saya kala itu. Mereka kan teman saya utang makan, minta ditraktir dan tahu agak detail kebiasaan buruk selama tinggal di kantor senat mahasiswa?

Tapi apa hendak dikata, saya harus menerima kurnia ini dengan lapang dada. Kalau ternyata nanti sebagian mahasiswa protes bahkan demo, saya akan laporkan ke Pak Akhwan. Tapi untungnya selama satu semester, hal tidak diinginkan belum pernah terjadi. Paling hanya berdebat sebentar, setelah itu akrab lagi usai kuliah.

Ini yang membuat saya terkesan hingga saat ini terhadap sosoknya. Kejadiannya usai shalat magrib. Kala itu saya akan mengonsultasikan mata kuliah yang harus disampaikan kepada mahasiswa. Habis magrib menjadi pertimbangan karena khawatir Pak Akhwan akan pergi bersama keluarga. Biasanya kan magrib waktu yang tepat untuk bertamu.

Di perumahan dosen yang saat itu berada di arah selatan gedung rektorat, saya memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Ternyata, Pak Akhwan tengah berada di ruang tamu. Yang membuat saya takjub, saat itu sedang ngaji dengan suara keras sekali, sehingga memenuhi ruang tamu yang lumayan luas.

Karena saya datang, Pak Akhwan mempersilakan masuk dan duduk tamu tidak tahu waktu tersebut. Ngajinya dihentikan, dan kemudian menerima maksud kedatangan saya.

Sebelum saya menyampaikan niat, dia memberikan penjelasan soal bagaimana umat Islam harus memaknai perintah agama.

“Full, ajaran agama itu tidak seluruhnya masuk di akal kita. Apa saja yang diperintahkan, lakukan dengan penuh ketaatan. Termasuk ngaji Al-Qur’an setelah magrib itu, saya tidak tahu bagaimana rahasia yang ada di balik perintah tersebut. Tapi tugas saya adalah menjalankan perintah tersebut tanpa harus tahu apa makna di balik ibadah yang ada,” katanya.

Baca Juga:  Parenting dalam Al-Quran: Pentingnya Peran Ayah dalam Mendidik Anak

Saya menunduk malu karena sudah lama tidak ngaji. Anak kost dan aktivis kampus, mana sempat ngaji Al-Qur’an? Dan dari pengalaman itu yang akhirnya kini sangat membekas.

Pak Akhwan, penerimaan usai waktu magrib tersebut mungkin panjenengan sudah lupa. Tapi sangat membekas hingga saat ini. Izinkan saya memberikan hadiah ngaji setiap hari untuk panjenengan. Saya bersyukur karena ikut khataman ngaji di keluarga Jombang dan Probolinggo, ditambah lagi jamaah serupa dari alumni pesantren.

Bersama ayahanda, mertua, para guru, dan pejuang kebaikan yang lain, panjenengan akan mendapatkan jariyah dari teladan yang telah diberikan. Semoga sedikit yang saya berikan akan melapangkan kuburan panjenengan. Demikian kelak kita akan berjumpa di alam yang sama.

Terima kasih yang telah mengajarkan makna ‘tidak aji mumpung’ dan ‘memanfaatkan kedekatan untuk menjadi pejabat’. Saya, anak panjenengan memang bukan pegawai dan pejabat penting. Tapi saya ingin panjenengan bangga dengan yang sudah diteladankan selama ini.

Sugeng tindak, Pak Akhwan. Panjenengan adalah ayah sekaligus guru besar saya. Semoga kita dipertemukan kembali dalam suasana yang lebih baik, di alam sana. []

Mlaras, Selasa (16/03/2021)
Dari anakmu; Syaifullah, S.Ag.

Syaifullah Ibnu Nawawi
Pemred NU Online Jawa Timur dan Redaktur Senior Majalah Aula PWNU Jawa Timur

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Kisah