Apakah Gaswul Fikri menjadi Problem sebagian Umat Islam di Indonesia?

Apakah umat Islam akan dihancurkan lewat (perang) pemikiran? Pertanyaan inilah yang selalu hadir di benakku. Melihat kondisi yang ada kini, tidak sedikit yang yang memercayai, bahwa umat Kristen akan menghancurkan umat Islam, misalnya saja seperti, ketika ada orang Kristen memberikan bantuan langsung dicap sebagai sebauh misi Kristenisasi, padahal belum tentu itu benar.

Gaswul Fikri sendiri artinya adalah perang pemikiran. jika misalnya ada yang memercayai ini, sebenarnya sah-sah saja, akan tetapi jangan sampai menimbulkan sikap buruk sangka terhadap orang lain atau liyan yang berlebihan. Misalnya, semua yang berkaitan dengan non muslim langsung di tuduh akan menghancurkan umat Islam.

Tetapi kalau kita lihat, faktanya memang konsep gaswul fikri sering kali mengandung unsur cocokologi dan konspirasi di dalamnya. Misalnya jika ada benda yang bentuknya menyerupai dengan bintang langsung dituduh Iluminati, atau Yahudi. Atau mislanya juga dengan benda yang mirip dengan simbol salib atau tanda tambah, langsung dituduh kristenisasi.

Seperti misalnya yang kita lihat beberapa waktu kebelakang, melansir dari Tempo.co (Kamis, 12/01/19) bahwa Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) akan menggelar aksi demo di kantor Balai Kota Surakarta pada Jum’at 18/01/19. Sebab aksi tersebut dipicu oleh pemasangan ornamen di jalan depan balai kota yang dianggap mirip salib. Kata Juru bicara DSKS Endro Sudarsono bahwa desain ornamen jalan itu cukup meresahkan. “banyak masyarakat yang mempertanyakan kemiripan desain ornamen jalan itu dengan salib.

Padahal kata Pejabat pembuat Komite (PPK) dalam proyek tersebut, pihaknya mendesain sebuah simbol mata angin melalui ornamen itu. “terinspirasi dari filosofi kerajaan Islam Keraton Kasunanan Surakarta yang membentang dari Bangsal Pagelaran hingga Tugu Pemandang. Akan tetapi dengan pertimbanagn baru, akhirnya ornamen itu di perbarui lagi.

Baca Juga:  Belanja Sampai Miskin: Menyoal “Konsumerisme” di Indonesia

Melihat fenomena respon dari sebagian masyarakat, itu menunjukkan bahwa ada hal yang memang sudah terbentuk di dalam pola pikir meraka, bahwa mereka menganut adanya gazwul fikri atau umat non-Islam ingin menghancurkan Islam dari dalam dengan segala cara.

Masih Relevankah di masa kini ?

Konsep ini memang ada sejak pada zaman Nabi Muhammad Saw dan ketika pada masa Khilafah. Akan tetapi, setelah politik berubah menjadi sistem kerajaan dan republik, konsep  gazwul fikri ini hemat saya sudah tidak relevan lagi.

Misalnya kita lihat saat George W. Bush menginvasi Irak dengan alasan Irak memiliki senjata pemusnahan massal, jika memakai konsep ini, maka otomatis Bush akan menghabisi hanya umat Islam saja, akan tetapi pada kenyataannya yang tersiksa bukan hanya umat Islam, melainkan seluruh rakyat Irak. Kita ketahui bersama bahwa rakyat Irak bukan hanya umat Islam saja, ada juga umat Kristen, Yazidi, Yahudi.

Oleh sebab itu, kita sebagai manusia yang hidup di Negara majemuk, negara yang terhimpun atas banyak kelompok maupun suku, sepatutnya kita menjadi manusia yang selalu bersikap bijaksana dalam melihat sesuatu, agar demi terciptanya suasana aman dan damai antar sesama manusia. Sebab ketika memandang hanya sepihak terhadap sebuah identitas atau simbol misalnya, maka akan lahir ketidakbijaksanaan yang akan membawa atau memicu kepada timbulnya konflik. [] 

Rojif Mualim
Aktivis NU, Pengajar dan Peneliti, Peminat Kajian Sosial dan Keislaman, Owner @blackjavaindonesia

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini