Al-Qur'an dan Hak-hak Perempuan

Membincang wanita di era saat ini memiliki daya tarik tersendiri dalam kajian Islam. Perempuan seringkali diperlakukan secara tidak adil dan proporsional. Dalam ranah sosial mereka kurang diperhatikan. Mereka tidak mendapatkan hak-hak sipil dan politik. Bahkan pada saat masih jahiliyah (baca: jahiliyah) mereka dianggap sebagai sumber masalah. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang dikubur hidup-hidup. Sebagaimana pernah dilakukan oleh kabilah Arab. Dalam kancah politik perempuan seringkali tidak mempunyai hak berbicara demi kepentingan kaum mereka.

Menurut Prof. Abdul Mustaqim, sikap di atas tersebut merupakan bentuk marginalisasi dan atau dehumanisasi terhadap kaum perempuan. Hal ini sungguh sangat memalukan jika sampai terjadi di dunia Islam. Membatasi ruang gerak perempuan untuk tidak tampil ke permukaan seperti tidak mengikutsertakan perempuan untuk berkiprah dalam kancah politik dan lain-lain, semua itu memperlihatkan bagaimana kedudukan kaum perempuan yang sangat lemah dan rentan dalam ranah public (hlm. 36). Oleh karena itu harus diubah.

Bagi kalangan yang mengerti soal perempuan melihat hal seperti ini merasa prihatin. Banyak lembaga organisasi yang menampung aspirasi perempuan baik dalam skala nasional maupun internasional banyak bermunculan. Seperti kehadiran organisasi taraf internasional, sebut di antaranya misalnya, sebuah organisasi perempuan yang dilakukan oleh R. Magdalena yang tujuannya untuk mengangkat perempuan, organisasi tersebut antara lain, Woman Lib: Woman International Conference di Maxico, Woman Internationaly Day dan lain-lain atau suatu usaha personal seperti dilakukan oleh Aminah Wadud Munir, seorang tokoh feminis perempuan Islam asal Amerika memberikan tawaran metodologis di dalam mengembangkan dan memekarkan wacana tafsir yang sensitive gender.

Hal serupa juga dilakukan oleh Bettye Naomi Goldstein atau Bettye Friedan (1921) yang pada saat yang sama juga memperjuangkan hak-hak perempuan. Ia telah banyak sekali menerbitkan baik buku maupun artikel seputar perempuan. Buku The Feminine Mystique, merupakan buku paling berpengaruh pada abad ke dua puluh. Saat ini, Dr. Ahsin Sakho Muhammad, ingin melakukan hal yang sama. Melalui karyanya ini, ia ingin memberikan kontribusi yang amat begitu mulia telah ikut membuka ruang dialog kita hari ini.

Baca Juga:  Konsep Tafakkur dalam Al-Qur’an

Semua itu beliau kemas secara menarik dalam buku yang berjudul “Perempuan dan Alquran” yang dirangkai secara tematik oleh sang pakar ilmu Alquran dan Tafsir ini. Melalui karyanya yang membincang kaum perempuan yang merujuk pada Alquran secara langsung, diketahui bahwa secara normatif Alquran sungguh sangat menghargai para kaum perempuan ini. Justru itu, Alquran memandang laki-laki dan perempuan secara equal (al-musawah). Itu artinya, antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan yang signifikan yang harus diunggulkan di antara keduanya. Sebaliknya, keduanya memiliki hubungan simbiotik-mutualistik agar tercipta sebuah sistem kehidupan yang tenteram.

Laki-laki dan perempuan harus bisa saling seimbang dan menguatkan dalam menjalankan roda kehidupan yang harmonis. Sebab, melalui keduanya bisa lahir generasi pemuda-pemudi Qurani, shalih-shalihah, sopan santun dalam bergaul, dan menjadi leader kelas dunia yang dibanggakan agama dan dunia. Pada saat Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS. di surga, sebelum Allah menghadirkan seorang istri sebagai pendamping hidupnya, Nabi Adam AS. terlihat sangat kesepian. Ia membutuhkan teman yang nantinya akan menjadi istrinya. Teman Nabi Adam AS. ini bernama Hawwa. Itu artinya, laki-laki dan perempuan saling membutuhkan. Dengan kata lain, sebuah sistem kehidupan ini, kata Mustaqim, tidak dapat dianggap sesuatu yang seimbang manakala dalam kehidupan ini mengabaikan salah satunya.

Kehadiran buku ini setidaknya memperjelas kekeliruan sikap manusia menurut pandangan Alquran. Sebagai sumber inspirasi dan hukum tertinggi dalam Islam, Alquran menjelaskan kepada manusia agar menghormati kaum perempuan. Ketika Alquran sendiri telah menghargai kaum perempuan bagaimana mungkin manusia bisa-bisanya melakukan kesewenang-wenangan terhadap perempuan? Hemat saya (penulis), perlakuan sewenang-wenang terhadap perempuan merupakan bentuk dehumanisasi dan marginalisasi terhadap teks wewenang tersebut.

Baca Juga:  Hukum Shalat di Masjid bagi Perempuan

Buku setebal 205 ini hendak mengubah kesadaran public tentang pentingnya menghargai kehadiran kaum perempuan dan membawa banyak perempuan menjadi pelopor gerakan wanita. posisi kaum perempuan dalam buku ini dijelaskan secara gamblang agar kecenderungan yang seringkali membatasi hak-hak kaum perempuan dapat mengambil pelajaran dari kitab sucinya.

Buku ini kiranya menjadi penting kehadirannya karena di dalamnya tidak saja menghadirkan kepada kita tentang pujian-pujian Al-Qur’an bagi kaum perempuan semata, lebih dari itu juga berisi tentang tata nilai untuk mengatur kehidupan bagi kaum perempuan. Sebab, dalam diri perempuan terkumpul multi-identitas; sebagai pribadi, istri, ibu bagi anak-anaknya, dan anggota keluarga, tentu harus mempersiapkan diri tidak saja dari sisi stamina fisik saja, melainkan juga dari sisi mental dan spiritualitasnya. []

 

Buku: Perempuan dan Al-Qur’an

Penulis: Dr. Ahsin Sakho Muhammad

Penerbit: Qaf Jakarta

Tebal: 205 halaman

ISBN: 978-602-5547-50-8

Peresensi: Ashimuddin Musa

Ashimuddin Musa
Santri PP. Annuqayah dan Pengurus PAC. GP Ansor Pragaan

    Rekomendasi

    al-munaffirun
    Opini

    Al-Munaffirun

    Suatu ketika, Sayyidina Mu’adz bin Jabal radliyallahu ‘anhu memanjangkan salatnya. Beliau membaca Surat ...

    1 Comment

    1. […] sedari awal tradisi pemikiran filosofis hadir untuk mendobrak pola pikir perihal kedudukan seorang perempuan lebih rendah daripada seorang laki-laki, baik di lingkungan ulama atau pemikir Islam maupun […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Pustaka