Agama dan Perjalanan Mistik: Suatu Keadaan Menjumpai Rasa Tertinggi

Dalam buku Muzairi yang bertajuk Dimensi Pengalaman Mistik (Mystical Experience) dan Ciri-Cirinya, arti dari pengalaman religious sendiri dalam bahasa skolastik dikenal dan selalu berkaitan dengan pengenalan diri manusia. Hal ini disebut sebagai puncak dari pengalaman mistik setiap individu manusia.

Plotinus pernah berkata “Menyendirilah dan lihat, jika kau masih temui dirimu belum lagi baik, maka bertindaklah bagaikan pemahat patung yang akan memperindah pahatan patung tersebut dan jangan sesekali berhenti memahat patungmu”. Terdapat juga seseorang yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran filsafat mistik Islam yaitu seorang filsuf yang berasal dari Yunani.

Menurutnya dalam pengenalan diri manusia adalah sebuah seni tertinggi yang akan membawa kita pada pencerahan/“kecerahan”. Tentu hal ini bersumber dari diri yang tertinggi, (kesadaran seperti ini merupakan kesadaran yang masih universal dari dunia Barat hingga dunia Timur).

Dalam hal mistik atau pengalaman religious dalam agama Islam menurut para Nabi yaitu terciptanya sifat uluhiat yang ada pada diri manusia. Pengalaman yang semacam ini telah memunculkan beberapa peryataan dalam beberapa kalimat diantaranya “akulah waktu” Muhammad, “akulah kebenaran kreatif” al-Hallaj, “akulah al-Qur’an yang berkata kata”.

Perlu kita pahami bahwa dalam dunia sufisme baik itu dari ungkapan yang sifatnya mistis telah memberi pegangan yang terkadang seseorang tidak dihadapkan dengan halnya teori filsafat, namun dihadapkan dengan sebuah pernyataan-pernyataan baik itu secara langsung maupun tidak langsung dalam sebuah penghayatan/penjiwaan yang mendalam dan mystical experience.

Dari pengalam mistik yang dialami manusia pada dasarnya irasional dan tidak dapat dijelaskan dengan logika, dan ilmu pengetahuan, namun pengalaman mistik itu sifatnya lebih mengutamakan penghayatan dan perasaan sebuah/permainan rasa dalam berdialog dengan yang sifatnya metafisik (rahsa, zauq). Pengalaman mistik ketika mengalami hal yang fana’ (estasy) dalam The Varieties of Religious Experience menurut William James ada empat ciri-ciri.

Baca Juga:  Ikhwan Al-Shafa’: Al-Tawfiq dan Al-Talfiq (Upaya Rekonsiliasi Agama dan Filsafat)

Pertama, waqtiyah (tranciency), yaitu penghayatan yang sementara “fana”. Menurut Wiliam James yang pertama ini sifatnya sementara yang hanya berlangsung sekitar setengah jam sampai yang terlama bisa mencapai dua jam. Kemudian setelah menghayati kesatuan yang terbilang singkat tersebut maka akan sadar kembali dan merasa bahwa ia (manusia) merupakan makhluk yang lemah dihadapan-Nya.

Kedua, menurut Wiliam yaitu salbiyah (passivity) atau disaat seorang sufi melakukan fana’, makai a akan merasa semua dikuasai dan digerakkan oleh sebuah kekuatan dari atas (Yang Maha Menggerakkan). Kehendak manusia seketika lenyap bahkan harus dihentikan dalam puncak tertinggi dalam penghayatan mistik. Kesadaran manusia pun yang menempuh jalan tersebut akan terhisap ke dalam kesadaran yang mana itu serba Tuhan, fana’ al-fana’.

Ketiga, yaitu al-qimat al-tajridiyah (noetic quality), dalam sebuah arti dari they are states of insight into depths of truth unplumbed by the discursive intellect, menjelaskan bahhwa manusia merasa menghayati sebuah hakikat yang sangat mendalam dan bercampur dengan intelektual yang disebut dengan penalaran.

Maka dari itu, tingkat tertinggi terdapat dalam ciri yang keempat, yaitu al-isti’sha’u ala al-washfi (inefability) yang artinya sulit untuk disifati dan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Ketika hanya permainan rasa yang paling utama, pengalaman semacam ini sulit untuk dijelaskan, karena hal ini sifatnya tinggi dan mencapai tingkat rasa tertinggi. Imam Ghazali mengemukakan tentang ciri-ciri pengalaman mistik yaitu sebagai berikut:

“Keadaan yang fana ini adalah penutup bagi taraf yang pertama yang hampir masih mendekati batas dari ikhtiar. Padahal sebenarnya masih merupakan sebuah permulaan dari tarikan, sedangkan yang sebelumnya disebut dengan dhiliz atau yang dikenal dengan jalan kecil menuju kepada-Nya (Tuhan). Dimulai dari awal terikat inilah yang kemudian mulailah peristiwa musyahadah dan mukasyafah yang akhirnya mereka dalam keadaan jaga bisa melihat arwah dari para nabi dan juga malaikat bahkan juga bisa mendengar suara mereka dan juga mendapat pelajaran dari apa yang dilihat yaitu roh para Nabi dan malaikat tersebut. Dari tingkatan ini, ia akan naik pula ke beberapa tingkatan selanjutnya yang lebih tinggi jauh diatas ukuran kat-kata. Tiap usaha untuk melukiskan dengan kata-kata pastilah akan sia-sia, karena setiap kata yang dipakai mengandung kesalahpahaman yang tidak mungkin untuk menghindarinya. Dan pada akhirnya ia akan mencapai derajat yang paling tinggi dan sangat dekat kepada-Nya hingga hampir ada orang yang mengira bahwasanya itu ittihad atau hulul dan juga wusul. Semua kiraan itu salah dan semua itu salah, dan ini telah kami terangkan dalam karangan kami yang berjudul “al-maqsidul-Aqa” yaitu tujuan akhir. Siapapun yang mengalaminya, pasti akan dapat mengatakan bahwasanya itu suatu yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata dan tidak juga dapat diterangkan, indah, utama, baik dan janganlah lagi bertanya”. Analogi yang begitu mirip dengan apa yang disampaikan William James, bahwasanya si pelaku yang mendapatkan seperti itu tidak bisa menjelaskan kepada siapapun.

Baca Juga:  Bahasa Agama dan Politik di Zaman Nabi

Hal yang seperti itu tidak dapat diterjemahkan dan diceitakan kepada orang lain. Atas kekhasannya, keadaan mistik cenderung mirip dengan keadaan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata dibanding dengan keadan intelek. Tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan hal ini kepada orang lain yang sama sekali belum sekali meraskan hal yang sama. Disamping itu hal ini tidak bisa dijelaskan bagaimana nilai dan sifat dari perasaan yang diperoleh selama menempuh suluk. []

Ali Mursyid Azisi
Mahasiswa Studi Agama-Agama - UIN Sunan Ampel, Surabaya dan Santri Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Opini