Achmad Qusyairi: Hubungan Dengan KH. Hasyim Asy’ari, Hingga Ijazah Mempermudah Haji

Dalam riwayat lain tentang Kiai Qusyairi, suatu hari beliau tidak memiliki uang untuk berangkat haji, lalu beliau menciptakan sholawat sendiri yang inti/kandungannya untuk mempermudah berangkat haji ke tanah suci Makkah, yakni sebagai berikut:

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُبَلِّغُنَا بِهَا حَخَّ بَيْتِكَ  الْحَرَامْ , وَزِيَارَةً قَبْرِنَبِيِّكَ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلاَ ةِ وَالسَّلاَمْ , فِيْ الُطْفٍ وَعاَفِيَةٍ وَسَلاَمَةٍ وَبُلُوْغِ المَرَامْ , وَعَلى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ (×9)

 “Ya Allah, limpahkanlah sholawat & salam atas Nabi Muhammad serta sekeluarga dan sahabatnya, sehingga dengannya Engkau takdirkan kami sampai di Baitil Haram (beribadah haji) dan ziarah ke makam Nabi-Mu, dengan penuh kemudahan, kesehatan lahir batin dan keselamatan hingga sampai di tempat tujuan.” (Dibaca 9x istiqamah setiap selepas shalat fardhu).

Dengan mengamalkan sholawat tersebut, Kiai Hadi bin Achmad Qusyairi mengatakan bahwa bisa mempermudah seseorang untuk menunaikan ibadah haji. Terbukti dalam sejarahnya, banyak orang yang di ijazahi sholawat itu oleh beliau. Pada akhirnya semua mendapat kemudahan, bahkan satu tahun hingga dua tahun kemudian sudah bisa menunaikan ibadah haji, padahal orang tersebut tidak memiliki uang yang cukup sebagaimana mestinya. Akan tetapi dengan segala perantara, banyak yang bisa berangkat haji.

Dari doa tersebut, bukan berarti sepenuhnya kita bertuhan/menggantungkan segala sesuatu kepada doa tersebut. Akan tetapi, kepasrahan total tetap disandarkan kepada Allah SWT sebagai Sang Maha Segalanya dan tentunya diiringi kerja keras untuk meraihnya. Ada sebuah cerita dulu di Jember ada pendatang dari perkebunan Malangsari, Kalibaru, Banyuwangi. Pendatang tersebut bernama Surawi, ia di Jember berprofesi sebagai penjual tahu keliling menggunakan sepeda ontel.

“Cerita ini saya ceritakan pada Gus Hamid putranya Kiai Faruq, Jember” tutur Kiai Hadi.

Baca Juga:  Haji di Zaman Dulu Sekali, Agak Dulu dan Masa Sekarang

Kemudian Surawi meminta ijazah sholawat itu pada Kiai Qusyairi.

Engghi pon, riak lakonen (iya sudah, ini amalkan/laksanakan)” jawab Kiai Qusyairi.

Alhamdulillah berkat ijazah itu, setelah sekitar satu hingga dua tahun berikutnya, Surawi bisa berangkat ke  tanah suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ini juga sebagai salah satu bukti fadhilahnya sholawat, tutur Kiai Hadi.

Diceritakan oleh almaghfurlah KH. Hasan Abdillah (salah satu putra Kiai Achmad), bahwa dahulu KH. Achmad Qusyairi memiliki hubungan erat dengan KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang. Pada waktu itu, Kiai Hasyim membuka salah satu media percetakan koran NU di Tebuireng, Jombang. Lalu Kiai Achmad Qusyairi diminta oleh Kiai Hasyim untuk menjadi salah satu penulis di percetakan koran tersebut.

Nggeh pun, kula purun nulis pokok bahasa Arab pegon, tapi lek (bahasa) latin kulo mboten, (baik, saya mau nulis asalkan dengan bahasa Arab pegon, tapi kalau dengan pakai bahasa latin saya tidak mau)”.

Achmad Qusyairi dikenal sebagai sosok pribadi yang keras yang begitu anti dengan masalah tasyabbuh. Karena dalam konteks sejarahnya dahulu tulisan latin dalam pemikiran Kiai Qusyairi identik dengan orang non-Islam, yang dimaksud yaitu para penjajah (Belanda dan Jepang). Sehingga dengan tegas Kiai Qusyairi tidak mau jika koran yang dikelola santri Kiai Hasyim tersebut ditulis dan diedarkan dengan bahasa latin sebagaimana pada umumnya saat ini.

Dari syarat yang ditawarkan bahwa Kiai Qusyairi mau menulis asalkan koran yang diteribitkan tersebut harus menggunakan bahasa Arab pegon, pada akhirnya Kiai Hasyim pun menyetujuinya. Seiring berjalalannya waktu, tulisan yang dimuat dan dicetak dalam koran tersebut sebagian ditulis menggunakan bahasa latin. Mengetahui hal tersebut, Kiai Achmad Qusyairi pun seketika memutuskan untuk pergi ke Jombang menemui Kiai Hasyim untuk menanyakan perihal penulisan dengan bahasa latin dalam koran tersebut.

Baca Juga:  Pembatalan Pemberangkatan Haji Persfektif Maqashid al-Syari’ah

Kiai Hasyim, yoknopo niki? (Kiai Hasyim, gimana ini?)”

Ngge lare nem-neman niku (ya anak-anak muda itu yang nulis)” jawab Kiai Hasyim,

Njenengan kok ngengken lare nem-neman, kersane pun lek ngoten mulai sakniki kulo mboten nulis maleh (njenengan/kamu kok menyuruh anak-anak muda untuk menulis itu, baik sudah kalau begitu mulai sekarang saya tidak mau menulis lagi). Saut Kiai Qusyairi. (Washil Hifdzi Haq (Putra Bungsu KH. Hasan Abdillah), Wawancara, (Surabaya, 12 Juni 2021).

Sejak saat itu pula Kiai Achmad Qusyairi enggan menulis di media koran NU yang dikelola oleh pesantren Tebuireng Jombang, pada waktu itu masih dinahkodai oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Achmad Qusyairi wafat pada selasa pagi 22 Syawal 1392 H atau 28 November 1972 di Pasuruan, tepatnya di kediaman menantunya Kiai Abdul Hamid, yang dulunya ditempati Kiai Achmad Qusyairi sewaktu tinggal di Pasuruan.

Beliau wafat karena sakit selama satu minggu akibat jatuh di kamar mandi ketika berkunjung ke Gresik. Beliau dimakamkan di belakang Masjid Agung Al-Anwar Pasuruan,[1] Seperti para ulama & waliullah lainnya, makam Kiai Qusyairi banyak didatangi para peziarah dari berbagai daerah. Terlebih ketika kamis malam, jamaah berdatangan begitu ramai. Lahul Fatihah. []

 

[1] Hamid Ahmad, KH. Ahmad Qusyairi, 43.

Ali Mursyid Azisi
Mahasiswa Studi Agama-Agama - UIN Sunan Ampel, Surabaya dan Santri Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Doa