Abadilah, Siapa Mereka?

Dalam kajian ilmu hadis, salah satu disiplin yang menjadi konsen ulama hadis ialah pengetahuan tentang sahabat. Kajian tentang sahabat menjadi prioritas utama , karena mereka lah yang melakukan interaksi secara intens dengan nabi. Pun ketika para tabiin melakukan studi secara mendalam terkait hadis nabi, referensi mereka hanya bersumber dari sahabat. Karena memang semasa nabi hidup dan menyampaikan hadisnya, secara umum para sahabat diberi notice oleh nabi, untuk tidak mencatatnya. Nabi khawatir jika penulisan hadis ini tersisip di dalam proses penulisan wahyu Al-Qur’an.

Dalam era sahabat ini, muncul beberapa istilah tentang kategorisasi sababat. Semua istilah ini menggambarkan keagungan dan keistimewaan para sahabat. Diantara istilah tersebut, mencuat istilah atau sebutan abadilah.

Abadilah merupakan nama laqab yang ditujukan kepada empat sahabat yang memiliki kesamaan nama. Pada nama sahabat ini, ada diksi kata Abdullah atau Abdillah. Yang berarti hamba Allah. Dalam kajian gramatika bahasa arab, lafadz abadilah merupakan manhuth (singkatan) dari abdala’ kemudian dijadikan plural menjadi abadilah.

سئل الإمام أحمد بن حنبل فقيل له : من العبادلة ؟ قال : عبدالله بن عباس ، و عبدالله بن عمر، و عبدالله بن زبير ، وعبدالله بن عمرو بن العاص ” فقيل له فأين ابن مسعود ؟ . فقال : ليس عبدالله بن مسعود من العبادلة “.وعلل لذلك  الإمام البيهقي فقال : ” لأن ابن مسعود تقدم موته وهؤلاء عاشوا حتى احتيج إلى علمهم، فإذا اجتمعوا على شيء قيل : هذا قول العبادلة أو فعلهم “

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya “man hum abadilah (Siapa abadilah itu?)“. Beliau menjawab: “mereka adalah Abdullah bin Abbas, Abdulloh bin Umar, Abdullah bin Zubair, dan Abdullah bin Amr bin ash“. Lalu beliau ditanya lagi “lalu bagaimana dengan Abdullah bin Mas’ud“  tukas beliau: “Abdullah bin Mas’ud bukan termasuk abadilah“.

Imam Baihaqi menafsiri pernyataan ini. Dikatakan bahwa Sabahat Abdullah bin Mas’ud bukan termasuk abadilah karena beliau wafat lebih dulu ketimbang mereka. Empat sahabat abadilah ini merupakan shigooru ash-sahabat (generasi sahabat muda) yang semasa hidupnya sering dimintai fatwa dan dijadikan rujukan para sahabat dan tabiin. Dikatakan “hadza qoulu abadilah “ketika keempatnya ini bersepakat atas suatu perkara. (Abu Syuhbah, Muhammmad Bin Muhammad, Al-Wasith Fi ‘Ulūm Wa Musthalah Al-Hadīts, Darul fikr, Mesir , hal . 517 ) .

Baca Juga:  Syekh Yasin, Ilmu Falak dan Mimpi Seorang Santri

Para ulama memperkirakan ada dua ratus dua puluh sahabat yang memiliki nama Abdullah atau Abdillah. Alasan apa yang melatarbelakangi sebutan abadilah terbatas hanya pada empat sahabat di atas. Sekurang-kurangnya ada dua sebab.

Pertama, mereka merupakan shigorus ash-sahabat (generasi sahabat muda) yang hidup dalam masa yang sama.

Kedua, mereka merupakan sahabat agung yang faqih, mereka memiliki ilmu diatas rata rata para sahabat pada umumnya. Mereka dikarunia usia yang panjang, sehingga mereka mampu menyebarkan keilmuwan nya pada generasi generasi setelahnya (tabiin).

Berikut merupakan biografi singkat sabahat abadilah :

Abdullah bin Abbas ra.

Beliau lahir di tahun 619 M dan wafat di tahun 687 M. Beliau termasuk sahabat agung yang memiliki gelar turjumanul quran (penjelas/mufassir Qur’an). Beliau juga menjadi imam para mufasir.

Selain sebagai sepupu Nabi sendiri, Abdullah bin Abbas selalu ada untuk membantu Nabi dengan menyiapkan air untuk wudhu dan menemaninya dalam perjalanannya. Kemanapun Nabi  pergi, Abdullah bin Abbas selalu ada bersamanya.

Hubungan yang kuat ini menjadikan Abdullah bin Abbas ra sebagai salah satu deretan dokumenter hadis terbanyak. Beliau berhasil mencatat sekitar 1660 hadits dari ingatannya. Tidak hanya itu, Nabi juga secara khusus mendoakan Abdullah bin Abbas agar dianugerahi pemahaman yang mendalam tentang agama dan hikmah.

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah, berikan dia (Abdullah Ibn Abbas) pemahaman dalam agama dan ajarkan dia interpretasi yang tepat (Alquran).” (HR  Ahmad)

Setelah Nabi SAW wafat, Abdullah bin Abbas mencari sahabat yang lebih tua yang mengetahui hadits yang tidak dia ketahui dan kemudian memverifikasi dengan Sahabat lain untuk memastikan keasliannya.

Seiring bertambahnya usia, orang-orang datang ke kediamanAbdullah bin Abbas di mana kelasnya diselenggarakan secara aktif. Dia tumbuh dalam ilmu sehingga senantiasa dicari oleh para sahabat untuk mengetahui pemikirannya, termasuk Umar ra selama pemerintahannya sebagai Khalifah.

Baca Juga:  KH Afifuddin Muhajir Faqih Ushuli dari Timur
Abdullah bin Umar ra.

Beliau lahir di tahun 610 M. Ayahnya adalah sabahat agung Umar bin Khattab. Beliau wafat sekitar tahun 73 H. Dalam artian, beliau hidup  60 tahun setelah nabi wafat.

Sebuah ungkapan dari ulama Islam menyebut:

“Sungguh, pengetahuan adalah pohon dan perbuatan adalah buahnya, dan seseorang tidak dianggap sebagai seorang terpelajar yang tidak bertindak berdasarkan ilmunya.” (Al-Khateeb Al-Baghdadi).

Benar, pengetahuan hanya menghasilkan buah ketika kita mengamalkannya, apakah itu berarti mencoba mengubah aspek tertentu dari diri kita atau mungkin bahkan sesuatu yang kecil dan sederhana seperti tersenyum kepada orang-orang di sekitar kita. Hanya dengan begitu si pencari akan mendapat manfaat darinya, dan ilmu itu bermanfaat bagi orang lain.

Abdullah bin Umar ra adalah contoh yang baik dari seseorang yang bertindak berdasarkan ilmunya. Dia adalah putra Umar bin Khattab sang khalifah kedua. Abdullah bin Umar juga salah satu perawi hadis yang terkemuka karena keterikatan dan cintanya yang kuat kepada Nabi SAW. Selama hidupnya, Abdullah Ibn Umar mencatat sekitar 2.630 hadits.

Abdullah bin Amr bin ‘As ra.

Beliau lahir ditahun 616 M dan wafat ditahun  63 H. Abdullah bin Amr bin ‘As ra, yang adalah seorang Sahabat terkemuka bahkan di usia mudanya. Dia adalah seorang sahabat muda yang luar biasa, diberkati dengan kecerdasan dan kesalehan.

Ketika Nabi SAW ada di sekitar, dia meminta izin untuk menuliskan hadits karena Abdullah percaya bahwa segala yang dikatakan Nabi SAW adalah kebenaran. Namun, Nabi SAW tidak mengizinkan hal ini karena Alquran belum sepenuhnya diturunkan kepadanya, jadi dia khawatir para sahabat akan bingung.

Ketika Alquran selesai, Abdullah bin Amr akhirnya diberi izin untuk mengumpulkan dan mencatat hadits Nabi. Tugas menulis ini terbukti bermanfaat besar bagi umat Islam karena catatannya menjadi sumber ilmu, terutama setelah Nabi SAW wafat.

Baca Juga:  Bermain Saham dalam Perspektif Ulama Kontemporer
Abdullah bin Az-Zubair ra.

Beliau lahir pada tahun 1 H. dan wafat ditahun 73 H (tahun kewafatan sahabat Abdullah Umar).  Ayah nya adalah Sahabat Zubair bin awwam, salah satu sahabat yang termasuk al asyraah al mubasyirin bil jannah. Ibunya adalah Asma ‘binti Abu Bakar, orang ke-18 yang memeluk Islam dan putri Abu Bakr As-Siddiq ra, khalifah pertama dalam Islam. Abdullah bin Az-Zubair adalah orang pertama yang lahir di antara Muhajirin setelah Hijrah, dan merupakan penyebab kegembiraan bagi umat Islam selama masa itu.

Abdullah bin Az-Zubair juga diberkati menjadi salah satu pembantu Nabi SAW, memberinya kesempatan untuk mengamati dengan cermat kehidupan Nabi, memperoleh ilmu dan dengan sempurna meniru Sunnah Nabi SAW.

Abdullah bin Az-Zubair juga sangat dekat dengan Aisyah ra, istri nabi sekaligus bibinya sendiri. Kedekatan tersebut bahkan membuat Aisyah dikenal sebagai ‘Umm Abdullah’ (ibu dari Abdullah).

Seiring bertambahnya usia, Abdullah bin Az-Zubair menjadi pria yang dihormati, yang kualitasnya melampaui banyak orang lainnya. Diriwayatkan bahwa Utsman bin Talhah ra berkata:

“Ibn Az-Zubair tiada bandingnya dalam tiga hal: keberanian, ibadah dan kefasihan.”

Memang, Abdullah bin Az-Zubair teguh dan memiliki akhlak yang mulia, bahkan sejak usia yang sangat muda. Dia berani, tapi dia juga pria yang fasih. Ketika umat Islam berjaya di Afrika Utara, Abdullah bin Az-Zubair memberikan pidato kemenangan. Pidato tersebut disampaikan seperti kakeknya, Abu Bakar ra saat berpidato.

Sampai akhir hayatnya, dia tetap teguh pada nilai-nilai dan prinsip yang dipegangnya. Dia berani dalam pertempuran dan setia kepada orang-orang di sekitarnya. Dia adalah salah satu orang yang membela Utsman bin Affan, khalifah ketiga, ketika para pemberontak berkonspirasi melawannya. []

Abdillah Amiril Adawy
Santri PP. Munawwir Krapyak sekaligus Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Pustaka