Press ESC to close

Generasi Z Santri dan Mahasiswa Belajar Membangun Personal Branding dan Bisnis Digital

Purwokerto, Pesantren.id — Di tengah derasnya arus digitalisasi, para santri dan mahasiswa kini tak hanya dituntut menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menjadi kreator, inovator, dan entrepreneur. Semangat itulah yang diusung dalam kegiatan blended learning bertema “Membangun Personal Branding dan Bisnis di Era Generasi Z” yang diselenggarakan oleh KKN Tematik 07 Beji, Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto pada Jumat, 17 Oktober 2025.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy, M.E, dosen ekonomi syariah UIN SAIZU sekaligus pakar bisnis digital Islami, bersama dua narasumber muda inspiratif: Mona Ayudya dan Khoffiah Fikria C.A, keduanya mahasiswa aktif yang aktif di dunia konten digital dan pengembangan diri. Kegiatan dilakukan secara blended learning—menggabungkan pertemuan langsung di pesantren mitra dan sesi daring melalui Zoom Meeting—dengan diikuti lebih dari seratus peserta dari kalangan santri, mahasiswa, dan pelaku usaha muda.

Generasi Z: Dari Konsumen Digital Menjadi Kreator Bernilai

Dalam paparannya, Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy menegaskan bahwa generasi Z memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi kreatif berbasis nilai. “Generasi Z bukan hanya digital native, tapi juga value native. Mereka tumbuh dengan akses teknologi yang cepat, tapi mereka perlu membangun makna dan arah agar digitalisasi tidak hanya konsumtif, tapi produktif dan beretika,” jelasnya.

Beliau menekankan pentingnya konsep personal branding islami—yakni membangun citra diri yang bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga mencerminkan integritas, etos kerja, dan tanggung jawab sosial. “Dalam Islam, branding bukan sekadar pencitraan, tetapi amanah. Nabi Muhammad ﷺ adalah figur dengan reputasi al-amīn, jujur dan terpercaya. Itulah personal branding sejati,” tambah Dr. Shiddiqy.

Menurutnya, banyak anak muda hari ini terjebak dalam budaya instan—terutama di media sosial—yang mengukur keberhasilan dari jumlah pengikut, bukan dari nilai dan kontribusi. Padahal, personal branding sejati harus berakar pada kompetensi, karakter, dan konsistensi.

Belajar dari Tren Creator Economy

Sementara itu, Mona Ayudya, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang juga aktif sebagai content creator, membagikan pengalamannya membangun identitas digital yang positif. Ia mengajak para peserta untuk memahami ekosistem creator economy, di mana individu bisa menjadi merek sekaligus pelaku ekonomi.

“Di era TikTok, Instagram, dan YouTube, kita semua punya panggung. Tapi yang bertahan bukan yang paling ramai, melainkan yang paling relevan dan konsisten. Personal branding itu tentang bagaimana kita memecahkan masalah dengan keunikan kita,” ungkapnya.

Data terkini menunjukkan, lebih dari 45% generasi Z di Indonesia ingin menjadi entrepreneur atau content creator. Fenomena ini disebut shift ekonomi kreatif, di mana media sosial bukan lagi sekadar ruang hiburan, tetapi ladang ekonomi baru. Namun, Mona menekankan, agar tidak terjebak dalam konten kosong, setiap santri dan mahasiswa harus menanamkan nilai-nilai keislaman dalam setiap karya digitalnya. “Jadilah digital creator yang punya akhlaqul karimah, bukan hanya viral maker,” tegasnya.

Khoffiah Fikria: Bisnis Digital Bisa Dimulai dari Kos dan Pesantren

Pembicara ketiga, Khoffiah Fikria C.A, mengangkat tema menarik tentang bisnis digital skala kecil yang bisa dimulai dari lingkungan sekitar, termasuk di pesantren dan kos mahasiswa. Ia mencontohkan tren micropreneurship, seperti jualan makanan ringan, jasa desain, hingga dropshipping produk halal melalui platform e-commerce.

“Banyak santri berpikir bisnis digital itu harus punya modal besar. Padahal, modal terbesar adalah ide dan jaringan,” ujarnya. Ia membagikan praktik nyata santri yang memanfaatkan marketplace syariah dan fintech halal untuk berdagang secara etis, transparan, dan sesuai syariah.

Khoffiah juga menyoroti pentingnya digital literacy dan cyber ethics. Menurutnya, dalam bisnis digital, kepercayaan adalah segalanya. “Sekali kita curang, kepercayaan hilang. Dalam Islam, kejujuran adalah modal utama perdagangan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada” (HR. Tirmidzi).”

Blended Learning: Sinergi Kampus dan Pesantren

Kegiatan ini tidak sekadar webinar biasa. Konsep blended learning yang diterapkan KKN Tematik 07 Beji memungkinkan peserta dari berbagai latar belakang untuk belajar bersama secara fleksibel. Sebagian peserta mengikuti secara luring di Pesantren Beji, sementara lainnya bergabung melalui Zoom dari berbagai daerah.

Koordinator KKN Tematik 07, dalam sambutannya, menegaskan bahwa pendekatan ini sejalan dengan program Ekonomi Syariah dan Kemandirian Santri yang digaungkan oleh Kementerian Agama. “Santri dan mahasiswa harus disiapkan menjadi bagian dari ekonomi masa depan—ekonomi hijau, ekonomi digital, dan ekonomi nilai,” ujarnya.

Kegiatan ini juga disambut antusias oleh para peserta. Seorang santri peserta, Ahmad Rafi, menyebut kegiatan ini membuka wawasannya. “Saya baru sadar kalau personal branding itu bukan tentang gaya, tapi tentang jati diri dan kontribusi. Kami di pesantren jadi ingin mulai membuat konten dakwah dan jualan produk santri secara online,” katanya.

Menatap Masa Depan: SantriPreneur dan Ekonomi Digital Islami

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi refleksi dan tantangan digital: peserta diminta membuat profil digital dan mini project bisnis berbasis nilai Islam, seperti eco product, halal fashion, atau digital dakwah entrepreneurship. Rencana tindak lanjutnya adalah membentuk Komunitas Santri Digitalpreneur Beji, wadah kolaborasi antar-santri untuk mengembangkan ide bisnis kreatif.

Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy menutup sesi dengan pesan inspiratif:

“Jangan takut bersaing di dunia digital. Asal niat kita benar, bisnis bisa jadi ibadah, dan personal branding bisa jadi dakwah. Jadilah generasi Z yang tidak hanya trending, tapi bermakna.”

Dengan kegiatan seperti ini, sinergi antara kampus, pesantren, dan masyarakat tampak semakin nyata. Generasi muda kini tak lagi hanya menjadi penonton di era disrupsi digital—mereka siap menjadi aktor perubahan yang membangun peradaban ekonomi berbasis iman, etika, dan teknologi. []

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Penyerahan Buku Karya Pengurus LAZISNU PBNU di Penghujung Tasyakuran 1 Abad NU
Ketum PBNU Soroti Peran Pesantren dan Santri dalam Menjaga Arah Keulamaan NU
Shalawat Seribu Rebana Jombang Kian Meriah dengan Duet Lawak Cak Ukil dan Cak Tawar
Peran Pengasuh Pesantren dalam Merawat Jami’iyah dan Jama’ah

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.